Memulai Hidup Sehat itu, Simple!

Kesehatan adalah topik yang banyak dibahas oleh masyarakat beberapa tahun terakhir ini. Banyak penyakit bermunculan yang menyebabkan banyak orang mulai memperhatikan nutrisi makanan yang kita konsumsi. Saya banyak mempelajari nutrisi sewaktu saya belajar di Perguruan Tinggi. Waktu itu, saya merasa nutrisi adalah hal baru yang amat sangat menarik untuk dipelajari. Mata pelajaran “Nutrisi” menjadi salah satu pelajaran favorit saya. Namun demikian hal ini bertentangan dengan keidealisan saya sebagai seseorang yang suka memasak. Awalnya sebagai seorang yang belajar sekolah masak, tentunya saya terlatih untuk mementingkan rasa dibandingkan nutrisi. Bukannya tidak memikirkan kesehatan tetapi nutrisi bukanlah sesuatu yang saya utamakan nomor satu. Mungkin nomor dua setelah rasa.

Masalah baru dimulai beberapa tahun terakhir ini. Dimana saya dihadapkan pada banyak sakit –penyakit di dalam keluarga saya. Mau tidak mau saya belajar untuk memasak secara sehat. Dalam arti saya mulai memerhatikan bahan-bahan yang saya masak dan tidak kalah penting bagaimana cara saya memasaknya.

Suatu kebohongan bila saya mengatakan akhirnya bisa memasak makanan sehat dan enak sama seperti semua masakan saya sebelumnya. Sejujurnya kalau boleh saya katakan masakan sehat itu tidak enak. Mengapa? Karena makanan enak identik dengan makanan berlemak. Saya rasa jarang sekali orang bilang ,” makanan kesukaan saya adalah sayuran rebus!” J Sebutkan saja makanan kesukaan kita, pastinya kebanyakan tidak jauh dari semua yang berminyak, digoreng, bersantan, dan jangan lupa juga mengandung gula tinggi.

Nah, menurut saya faktor “rasa” inilah yang menjadi masalah utama. Orang tidak akan tertarik untuk makan makanan sehat. Walaupun mereka berusaha pada awalnya tetapi tanpa keteguhan hati yang kuat, rasanya hal ini mustahil. Tidak sedikit saya bertemu orang yang awalnya menjaga makanan dengan ketat dan akhirnya kembali ke kebiasaan lama. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya Yoyo Diet. Permasalahannya adalah pada rasa makanan sehat yang tidak enak.

Dari masalah ini saya berusaha mencari sebuah solusi yang baik. Bisa dikatakan adalah “Win-Win Solution” yang artinya rasanya tidak buruk tetapi juga sehat. Bagaimana solusi yang saya maksudkan? Pertama, makanan tidak enak tentu ada levelnya. Ada makanan yang sangat tidak enak sehingga mencobanya kita pun tidak mau. Namun ada juga makanan yang ada dalam kategori oke. Ternyata ada banyak trik yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini. Kedua, saya pribadi memercayai bahwa panca indera perasa kita itu bisa dilatih. Saya dulunya adalah seseorang yang menyukai makanan asin, manis dan ber MSG. Setelah saya belajar banyak hal tentang nutrisi, saya mulai menguranginya. Awalnya semua makanan berasa hambar dan kurang enak. Lama kelamaan, saya sama sekali tidak keberatan bahkan kegemaran saya terhadap makanan asin berkurang dan saya tidak bisa lagi membedakan mana makanan ber MSG dan tidak. Ketiga, saya menyadari bahwa kita masih hidup di lingkungan yang tidak terlepas dari kata tradisi dan juga makanan favorit. Contohnya, saya adalah orang Jogja yang kononnya tidak bisa dipisahkan dari makanan khas “Gudeg”. Padahal kalau kita pernah mencoba makan “Gudeg”, pasti kita tahu bahwa gudeg adalah makanan bersantan, berminyak dan juga manis. Bila saya menjaga konsumsi makanan saya, “apakah ini berarti saya tidak bisa makan Gudeg lagi seumur hidup saya? ”Bagaimana pendapat anda? Mungkinkah? Ini hanya salah satu contoh makanan, bagaimana dengan makanan-makanan kesukaaan kita lainnya? Rasanya mustahil, iyakan? Oleh sebab itu, menurut saya trik memasak dan pola memasak yang benar itu sangat penting untuk menghasilkan makanan yang bukan saja sehat tetapi enak. Dengan demikian kita tetap bisa menikmati makanan yang kita sukai dengan tawaran nutrisi yang lebih baik.

Bagi saya daripada saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa saya tepati lebih baik saya membuat batasan-batasan yang lebih nalar dan pastinya bisa kita lakukan. Bila kita berbicara hidup sehat, di mata saya itu sama dengan membangun lifestyle atau pola hidup yang sehat. Membangun itu artinya perlu waktu dan juga adaptasi. Percayalah membangun pola sehat jauh lebih mudah dilakukan saat kita kecil daripada kita dewasa. Prinsip ini saya dengar sejak saya sekolah dan terlebih lagi setelah saya menghadapi masalah itu sendiri, saya membuktikan bahwa prinsip ini benar. Saya menghadapi dimana saya harus mendorong keluarga saya untuk berpola makan sehat. Susah sekali! Oleh sebab itu, kali ini saya menghimbaui para kaum ibu yang memiliki anak kecil untuk memulai pola hidup sehat sejak mereka masih kecil. Mengajar dan melatih anak kecil untuk memiliki pola hidup sehat itu jauh lebih mudah dari yang kita kira.

Untuk membangun pola hidup lebih sehat, saya menghimbau kita untuk memulai memasak di rumah. Terkadang mungkin menu yang kita masak pun ada yang berlemak, manis atau berminyak. Tetapi rasanya daripada kita membelinya di luar dengan bahan dan kandungan yang tidak jelas, rasanya kita akan lebih lega dan tidak kuatir bila kita memasaknya sendiri di rumah dengan bahan yang kita yakin itu jelas dan mungkin lebih sehat.

Kesimpulan sharing saya hari ini adalah untuk memulai lifestyle atau pola hidup sehat, terkadang tidak diperlukan sesuatu yang drastis. Sesuatu yang drastis justru bisa membuat kita letih dan tidak bisa konsisten dalam menjalankannya. Tetapi mulainya step by step seperti halnya bayi belajar berjalan. Misal dari sering makan keluar menjadi memasak di rumah. Sudah pasti, kita yang sayang keluarga pasti akan memilih makan yang lebih baik sehingga membuat kita lebih berhati-hati dalam memilih bahan dan memasak. Alhasil seluruh keluarga kita akan selalu sehat.

Sampai berjumpa dalam pembahasan selanjutnya yah… Next saya akan share mengenai bagaimana tips memasak lebih sehat 😉

Let’s get cooking

Sheila Gondowijoyo

Leave a Reply