Efek Negatif Memukul Pantat Anak

Untuk mendidik anak, orangtua kerap tega memukul pantat, menjewer, dan mencubit anaknya. Padahal meski terlihat sepele, perlu diketahui jika memukul pantat anak, misalnya, dapat meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi si anak. Memukul pantat anak menjadi hal umum yang sering dilakukan oleh para orangtua.

Meski sudah kerap dilakukan oleh banyak orangtua, namun para ahli berpendapat bahwa memukul pantat anak adalah cara ‘mendidik’ yang tidak efektif. Anak hanya akan mendapatkan rasa takut ketika berhadapan dengan orangtuanya, bukan rasa hormat.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics ini mengungkapkan bahwa anak yang pantatnya sering dipukul sang ibu sejak kecil lebih cenderung tumbuh menjadi anak yang agresif dibandingkan dengan anak yang tidak pernah dipukul sama sekali. Begitu juga jika pantat si anak kerap dipukul sang ayah karena ini dikaitkan dengan gangguan bahasa misalnya anak jadi tak punya banyak kosakata ketika berbicara.

Dilansir dari halaman detik news , anak yang ibunya masih sering memukul pantat anaknya ketika usianya beranjak lima tahun maka mereka cenderung tumbuh menjadi anak yang agresif saat usianya mencapai 9 tahun, tak peduli seberapa banyak frekuensi si orangtua memukul anaknya. Para ibu yang suka memukul anaknya setidaknya dua kali seminggu ketika usia si anak baru tiga tahun juga cenderung mempunyai anak dengan gangguan perilaku. Sedangkan anak yang dipukul dua kali seminggu oleh ayahnya di usia lima tahun dilaporkan lebih sering mendapatkan skor yang rendah dalam tes kosakata maupun tes komprehensi bahasa yang dijalaninya di sekolah.

Apalagi studi sebelumnya juga memperlihatkan adanya keterkaitan antara kebiasaan memukul pantat anak dengan perilaku agresif dan negatif yang dimiliki si anak ketika beranjak dewasa. Kesalahan di masyarakat ialah menganggap bahwa pemukulan seperti itu adalah bentuk pendisiplinan dan bukan kekerasan fisik terhadap anak-anak. Padahal riset jelas-jelas membuktikan bahwa pemukulan seperti itu sangat berkaitan erat dengan perkembangan psikologis anak.Untuk itu, peneliti ingin mendorong para pakar lainnya agar mengkampanyekan efek negatif dari memukul pantat anak pada para orangtua, termasuk mendidik mereka agar menerapkan metode disiplin yang benar dalam mengasuh anak.

Bahkan menurut psikolog, walaupun bukan menghukum tapi hanya sekedar gemas terhadap anak saja sebaiknya jangan memukul atau menepuk pantatnya. Hali ini dikarenakan ketika anak terbiasa pantatnya dipukul, saat besar nanti ketika ada orang lain yang tidak dikenal menyentuh termasuk memukul pantatnya, anak merasa itu hal itu biasa, padahal pantat merupakan salah satu area pribadi yang tidak boleh dipegang orang lain kecuali orang tua atau dokter dengan dampingan orang tua. Mengajarkan area pribadi ke anak juga penting dilakukan sebagai salah satu upaya agar anak terhindari dari pelecehan seksual. Jadi, kalau memang Anda gemas sama anak, mungkin bisa dengan menyampaikan pada anak bahwa mama gemas seraya menanyakan padanya boleh ga untuk sedikit mencubit pipi atau tangannya sebagai ungkapan gemas.

Semoga kita bisa menjadi orangtua yang bijak ya sahabat Cooking with Sheila 🙂

Sumber gambar : www.popsugar.com

Leave a Reply